Selasa, 06 Maret 2012

Mengapa Softswitch dibutuhkan ??

Perkembangan kebutuhan manusia yang semakin beragam dan mobile, bergerak dari satu tempat ketempat lain pastilah perlu dan butuh informasi dan komunisasi. Ternyata kebutuhan manusia itu tidak hanya suara tetapi kebutuhan manusia modern saat ini ada kebutuhan data dan suara secra bersamaan. Pertumbuhan data yang bertambah dan bertumbuh luar biasa pesat tumbuh secara exponensial tidak dapat terakomodasi oleh TDM yang beroreantasi dengan konsep circuit switch(TDM) dan legacy yang saat ini ada.

Untuk mengantisipasi kebutuhan data itu, maka digagaslah sebuah konsep dasar layanan yang konvergen. Layanan tersebut dapat diberikan oleh softswitch. konsep layanan yang diberikan oleh softswitch adalah untuk mendukung kebutuhan konvergensi layanan masa datang, yaitu terintegrasinya layanan suara dan data dalam satu platform jaringan tunggal. Oleh karena itu implementasi jaringan berbasis softswitch di pada beberapa operator telekomunikasi didesain untuk menyediakan layanan berupa teleponi, data, Internet, dan multimedia yang saat ini trend dengan istilah Triple play.

Sebagai penyedia layanan teleponi dan data, sistem softswitch harus dapat diimplementasikan sebagai switch kelas 4 (layanan Tunk pada TDM) , switch kelas 5, (layanan Lokal pada TDM)dan titik interkoneksi. Dalam praktek implementasinya, masing-masing jenis kelas tersebut dapat berdiri sendiri atau kombinasi.

Penyediaan layanan teleponi oleh softswitch adalah harus mampu menyediakan layanan teleponi minimal setingkat dengan layanan yang sudah diberikan oleh PSTN dengan berbagai kelengkapan fiturnya. Layanan teleponi yang diberikan juga hendaknya mengakomodasi jenis-jenis layanan TELKOM yang sudah diberikan kepada pelanggan selama ini, diantaranya sebagai berikut:

1. Komunikasi lokal
2. Komunikasi jarak jauh
3. Komunikasi internasional
4. Emergency services
5. Number portability

Selain konsep dasar layanan tersebut, kenapa para operator telekomunikasi berlombah menggunakan sotfswitch adalah antara lain :

1. Softswitch Sebagai Salah Satu Solusi Jaringan Masa Depan (Next Generation Network - NGN) dengan mengembangkan standar yang terbuka untuk menciptakan suatu jaringan yang terintegrasi dengan kemampuan memadukan berbagai kemampuan layanan suara, data dan multimedia secara lebih efisien.

2. Mengurangi biaya CAPEX (Capital expenditure/ biaya modal) an OPEX (Operation expenditure/ biaya operasi).

3. Memperbaiki Penyediaan Layanan yang konvergen hingga dapat menawarkan value- added, Menggelar layanan lebih cepat dan Menyediakan kemampuan untuk end-user dapat memelihara layanan yang diperlukannya.

4. Memfasilitasi migrasi ke jaringan IP.

ARSITEKTUR FUNGSIONAL SOFTSWITCH

Arsitektur fungsional sotfswitch terdiri dari Terdiri dari 4 bidang fungsionalantara lain :

1. Management Plane
Pada bagian bidang ini berfungsi untuk memberikan fungsi-fungsi dari Operation Support System (OSS), yaitu fungsi sistem operasi dan pemeliharaan jaringan, provisioning layanan, network management serta sistem billing.

2. Transport Plane
Transport Plane dibagi dalam tiga domain, yaitu;
IP Transport Domain, yaitu fungsi transport pada layer IP. Domain ini merupakan backbone IP yang dilengkapi dengan border gateway, mekanisme ruting dan QoS (Router, switches, dll),Interworking Domain (Trunk Gateway, Signaling Gateway),
Non-IP Access Domain (Access Gateway (wireline, mobile), Integrated Access Device, Cable modem/MM Terminal Adaptor-MTA, dll).

3. Call Control & Signaling Plane
Adalah bagian jaringan yang berfungsi sebagai pengendali proses pembangunan hubungan dan pemutusan hubungan yang melibatkan elemen-elemen jaringan pada layer yang lain berdasarkan signaling message yang diterima dari Transport Plane. Elemen utama bidang ini adalah softswitch (call agent atau Media Gateway Controller)

4. Service & Application Plane
Merupakan bagian jaringan yang menyediakan dan mengeksekusi berbagai aplikasi layanan di dalam jaringan softswitch. Elemen yang berada dalam bidang ini adalah Application Server dan Feature Server. Service/Application Plane juga mengontrol Media Server yang memberikan fungsi seperti conference, IVR, tone processing, dll.

Functional Elements Softswitch

Jaringan berbasis softswitch dibangun secara modular dari beberapa functional elements seperti gambar berikut :


1. Signaling Conversion Function.
Berfungsi untuk meroutekan dan manipulasi signaling. Proses manipulasi dapat dilakukan secara sederhana, dengan rewriting suatu Request URL tujuan, seperti pada Proxy SIP (sesion initialisatian protocol). Proses manipulasi dapat pula merupakan proses yang kompleks, seperti mengadaptasikan pesan signaling dari satu media transport dan format pesan ke bentuk lain, seperti halnya pada Signaling Gateway SS7.Signaling Gateway SS7 (sistem signalling no.7) atau dalam bahasa inggrisnya CCS#7 (common channel signalling no.7), setelah mengadaptasikan pesan akan meroutekan pesan ke suatu tujuan, misalnya MGC, AS, atau perangkat lain.

2. Media Gateway Function
Interface MG ke jaringan paket menggunakan access-endpoint, trunk jaringan atau sekumpulan endpoint atau trunk. MG mentransformasikan media dari satu format transmisi ke bentuk lainnya. Pada umumnya berbentuk sirkit jaringan ke bentuk paket (VoP) atau mengubah dua bentuk paket yang berbeda ATM (asyncronous Transfer mode) dan IP(Internet Protocol)

3. Media Gateway Controller Function.
Fungsi MGC adalah untuk mengontrol Media Gateways dan Signaling Gateways.
MGC menangani proses call setup dan teardown, mendeteksi dan memproses events, startup/shutdown gateway menggunakan database konfigurasi yang melacak trunk groups dan sirkit pada trunk. Dikenal dengan berbagai nama, diantaranya Softswitch, Call Agent, atau Call Controller. Merupakan tugasi dari MGC untuk memelihara status pada suatu koneksi panggilan

4. Application Server Function
Application Server (AS) merupakan entitas yang mengeksekusi aplikasi.
Tugas utamanya adalah menyediakan service-logic dan mengeksekusi satu atau lebih aplikasi dan/atau layanan.

5. Media Server Function
Fungsi dari Media Server adalah menyediakan pemrosesan media untuk mendukung aplikasi seperti messaging, audio dan video conferencing, music-on-hold, dll.

6. Accounting FunctionAF
Berfungsi untuk mengumpulkan informasi call-accounting untuk keperluan billing.


Medan, 6 Pebruari 2012, @materi dari beberapa sumber training...

Senin, 05 Desember 2011

Kisi2 ujian buat kelas XI Technik switching

Buat anak” Q.....kelas XI...(switching only)...
Ternyata tak selamanya apa yg terucap bisa kita laksanakan, ada hal lain yng diluar kuasa kita !!! untuk itu perkenankan ane mohon maaf atas segala keterlambatan ini....
Untuk kisi kisi tolong dibaca buku kitab putih itu tentang :
1. selektor
2. cross bar
3. rele
4. definisi NGN
5. elemen softswitch
6. layanan yang diberikan oleh softswitch
7. protokol
8. definisi dan penjelelasan tettang internet .

Stop...stop ...semoga berhasil...

Kisi2 ujian buat kelas X Technik switching

Maseh dalam lingkungan Swiching....(Dastel)
Bacalah buku pegangan siswa tulisan ttng :

1. Informasi realtime dan non realtime
2. type komunikasi
3. prinsip kerja sistel
4. bagian” sistel
5. apa itu jaringan akses tembaga
6. sinyal dan macam” sinyal
7. perkembangan sentral
8. konvergensi
note..
saat hari guru beberapa hari yang lalu ada cerdas cermat ntuk cak gu di skul ....kenapa komputer harus pake enter.????...hayo apa td jawabannya ...?

Minggu, 27 Februari 2011

FIBER OPTIC

FIBER OPTIK
Serat optik adalah merupakan saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari kaca atau plastik yang sangat halus hampitr sama dengan sehelai rambut manusia, dan dapat digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain. Sumber cahaya yang digunakan biasanya adalah laser atau LED. Kabel ini berdiameter lebih kurang 120 mikrometer. Cahaya yang ada di dalam serat optik tidak keluar karena indeks bias dari kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara, karena laser mempunyai spektrum yang sangat sempit. Kecepatan transmisi serat optik sangat tinggi sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran komunikasi.

Perkembangan teknologi serat optik saat ini, telah dapat menghasilkan pelemahan (attenuation) kurang dari 20 decibels (dB)/km. Dengan lebar jalur (bandwidth) yang besar sehingga kemampuan dalam mentransmisikan data menjadi lebih banyak dan cepat dibandingan dengan penggunaan kabel konvensional. Dengan demikian serat optik sangat cocok digunakan terutama dalam aplikasi sistem telekomunikasi. Pada prinsipnya serat optik memantulkan dan membiaskan sejumlah cahaya yang merambat didalamnya.
Efisiensi dari serat optik ditentukan oleh kemurnian dari bahan penyusun gelas/kaca. Semakin murni bahan gelas, semakin sedikit cahaya yang diserap oleh serat optik.

Pada 30 tahun belakangan ini, telah dikembangkan sebuah teknologi baru yang menawarkan kecepatan data yang lebih besar sepanjang jarak yang lebih jauh dengan harga yang lebih rendah daripada sistem kawat tembaga. Teknologi baru ini adalah serat optik. Serat optik adalah sebuah kaca murni yang panjang dan tipis serta berdiameter sebesar rambut manusia. Dan dalam pengunaannya beberapa fiber optik dijadikan satu dalam sebuah tempat yang dinamakan kabel optik dan digunakan untuk mengantarkan data digital yang berupa sinar dalam jarak yang sangat jauh. Serat optik menggunakan cahaya untuk mengirimkan informasi (data). Cahaya yang membawa informasi dapat dipandu melalui serat optik berdasarkan fenomena fisika yang disebut total internal reflection (pemantulan sempurna).

Secara tinjauan cahaya sebagai gelombang elektromagnetik, informasi dibawa sebagai kumpulan gelombang-gelombang elektro-magnetik terpandu yang disebut mode. Serat optik terbagi menjadi 2 tipe yaitu single mode dan multi mode. Secara umum sistem komunikasi serat optik terdiri dari : transmitter, serat optik sebagai saluran informasi dan receiver. Pada transmitter terdapat modulator, carrier source dan channel coupler, pada saluran informasi serat optik terdapat repeater dan sambungan sedangkan pada receiver terdapat photo detector, amplifier dan data processing. Sebagai sumber cahaya untuk sistem komunikasi serat optik digunakan LED atau Laser Diode (LD).
Kata Kunci : Serat optik, internal total reflection, mode, single mode, multi mode, transmitter, saluran informasi, receiver, repeater, sambungan, modulator, carrier, source, channel coupler, detector, amplifier, data processing,, LED, Laser Dioda (LD), photo detector.

Sejarah Perkembangan Teknologi Serat Optik
Pada tahun 1880 Alexander Graham Bell menciptakan sebuah sistem komunikasi cahaya yang disebut photo-phone dengan menggunakan cahaya matahari yang dipantulkan dari sebuah cermin suara-termodulasi tipis untuk membawa percakapan, pada penerima cahaya matahari termodulasi mengenai sebuah foto-kondukting sel-selenium, yang merubahnya menjadi arus listrik, sebuah penerima telepon melengkapi sistem. Photo-phone tidak pernah mencapai sukses komersial, walaupun sistem tersebut bekerja cukup baik.
Penerobosan besar yang membawa pada teknologi komunikasi serat optik dengan kapasitas tinggi adalah penemuan Laser pada tahun 1960, namun pada tahun tersebut kunci utama di dalam sistem serat praktis belum ditemukan yaitu serat yang efisien. Baru pada tahun 1970 serat dengan loss yang rendah dikembangkan dan komunikasi serat optik menjadi praktis (Serat optik yang digunakan berbentuk silinder seperti kawat pada umumnya, terdiri dari inti serat (core) yang dibungkus oleh kulit (cladding) dan keduanya dilindungi oleh jaket pelindung (buffer coating)). Ini terjadi hanya 100 tahun setelah John Tyndall, seorang fisikawan Inggris, mendemonstrasikan kepada Royal Society bahwa cahaya dapat dipandu sepanjang kurva aliran air. Dipandunya cahaya oleh sebuah serat optik dan oleh aliran air adalah peristiwa dari fenomena yang sama yaitu total internal reflection.

Teknologi serat optik selalu berhadapan dengan masalah bagaimana caranya agar lebih banyak informasi yang dapat dibawa, lebih cepat dan lebih jauh penyampaiannya dengan tingkat kesalahan yang sekecil-kecilnya. Informasi yang dibawa berupa sinyal digital, digunakan besaran kapasitas transmisi diukur dalam 1 Gb.km/s yang artinya 1 milyar bit dapat disampaikan tiap detik melalui jarak 1 km. Berikut adalah beberapa tahap sejarah perkembangan teknologi serat optik :

Sejarah
Penggunaan cahaya sebagai pembawa informasi sebenarnya sudah banyak digunakan sejak zaman dahulu, baru sekitar tahun 1930-an para ilmuwan Jerman mengawali eksperimen untuk mentransmisikan cahaya melalui bahan yang bernama serat optik. Percobaan ini juga masih tergolong cukup primitif karena hasil yang dicapai tidak bisa langsung dimanfaatkan, namun harus melalui perkembangan dan penyempurnaan lebih lanjut lagi. Perkembangan selanjutnya adalah ketika para ilmuawan Inggris pada tahun 1958 mengusulkan prototipe serat optik yang sampai sekarang dipakai yaitu yang terdiri atas gelas inti yang dibungkus oleh gelas lainnya. Sekitar awal tahun 1960-an perubahan fantastis terjadi di Asia yaitu ketika para ilmuwan Jepang berhasil membuat jenis serat optik yang mampu mentransmisikan gambar.

Di lain pihak para ilmuwan selain mencoba untuk memandu cahaya melewati gelas (serat optik) namun juga mencoba untuk ”menjinakkan” cahaya. Kerja keras itupun berhasil ketika sekitar 1959 laser ditemukan. Laser beroperasi pada daerah frekuensi tampak sekitar 1014 Hertz-15 Hertz atau ratusan ribu kali frekuensi gelombang mikro.
Pada awalnya peralatan penghasil sinar laser masih serba besar dan merepotkan. Selain tidak efisien, ia baru dapat berfungsi pada suhu sangat rendah. Laser juga belum terpancar lurus. Pada kondisi cahaya sangat cerah pun, pancarannya gampang meliuk-liuk mengikuti kepadatan atmosfer. Waktu itu, sebuah pancaran laser dalam jarak 1 km, bisa tiba di tujuan akhir pada banyak titik dengan simpangan jarak hingga hitungan meter.

Sekitar tahun 60-an ditemukan serat optik yang kemurniannya sangat tinggi, kurang dari 1 bagian dalam sejuta. Dalam bahasa sehari-hari artinya serat yang sangat bening dan tidak menghantar listrik ini sedemikian murninya, sehingga konon, seandainya air laut itu semurni serat optik, dengan pencahayaan cukup mata normal akan dapat menonton lalu-lalangnya penghuni dasar Samudera Pasifik.
Dalam penggunaan serat optik ini, terdapat beberapa keuntungan antara lain.
1. Mempunyai lebar frekwensi ( bandwith ynang lebar) mempunyai kemampuan dalam membawa banyak data,
2. Dapat memuat kapasitas informasi yang sangat besar dengan kecepatan transmisi mencapai gigabit-per detik
3. Menghantarkan informasi jarak jauh tanpa pengulangan
4. Biaya pemasangan dan pengoperasian yang rendah serta tingkat keamanan yang lebih tinggi.
5. Ukuran kecil dan ringan, sehingga hemat pemakaian ruang
6. Imun, kekebalan terhadap gangguan elektromagnetik dan gangguan gelombang radio.
7. Non-Penghantar, tidak ada tenaga listrik dan percikan api
8. Tidak berkarat.
9. Redaman sangat rendah dibandingkan dengan kabel yang terbuat dari tembaga
10. Dapat menyalurkan informasi digital dengan kecepatan tinggi
11. Ukuran dan berat fiber optik kecil dan ringan.
12. Tidak mengalirkan arus listrik

Sedangkan kerugian menggunakan serat optik sebagai media transmisi yaitu:
Konstruksi fiber optik lemah sehingga dalam pemakaiannya diperlukan lapisan penguat sebagai proteksi

Gambar 2.1 Struktur Serat Optik

Serat optik terbuat dari bahan dielektrik berbentuk seperti kaca (glass). Di dalam serat inilah energi cahaya yang dibangkitkan oleh sumber cahaya disalurkan (ditransmisikan) sehingga dapat diterima di ujung unit penerima (receiver).
Struktur Serat Optik pada umumnya terdiri dari 3 bagian yaitu:
1. Bagian yang paling utama dinamakan bagian inti (core), dimana gelombang cahaya yang dikirimkan akan merambat dan mempunyai indeks bias lebih besar dari lapisan kedua. Terbuat dari kaca (glass) yang berdiameter antara 2 125 m, dalam hal ini tergantung dari jenis serat optiknya.
2. Bagian yang kedua dinamakan lapisan selimut (Cladding), dimana bagian ini mengelilingi bagian inti dan mempunyai indeks bias lebih kecil dibandingkan dengan bagian inti. Terbuat dari kaca yang berdiameter antara 5 250 m, juga tergantung dari jenis serat optiknya.
3. Bagian yang ketiga dinamakan lapisan jaket (Coating), dimana bagian ini merupakan pelindung lapisan inti dan selimut yang terbuat dari bahan plastik yang elastis
Jenis Serat Optik
Berdasarkan sifat karakteristiknya maka jenis serat optik secara garis besar dapat dibagi
menjadi 2 yaitu :
1. Single Mode
Mempunyai inti yang kecil (berdiameter 0.00035 inch atau 9 micron) dan berfungsi mengirimkan sinar laser inframerah (panjang gelombang 1300-1550 nanometer)


Serat optik single mode/monomode mempunyai diameter inti (core) yang sangat kecil 3 -
10 mm, sehingga hanya satu berkas cahaya saja yang dapat melaluinya. Oleh karena
hanya satu berkas cahaya maka tidak ada pengaruh index bias terhadap perjalanan cahaya
atau pengaruh perbedaan waktu sampainya cahaya dari ujung satu sampai ke ujung yang
lainnya (tidak terjadi dispersi). Dengan demikian serat optik singlemode sering
dipergunakan pada sistem transmisi serat optik jarak jauh atau luar kota (long haul
transmission system). Sedangkan graded index dipergunakan untuk jaringan
telekomunikasi lokal (local network).
2. Multimode
Mempunyai inti yang lebih besar(berdiameter 0.0025 inch atau 62.5 micron) dan berfungsi mengirimkan sinar laser inframerah (panjang gelombang 850-1300 nanometer)

Pada jenis serat optik ini penjalaran cahaya dari satu ujung ke ujung lainnya
terjadi dengan melalui beberapa lintasan cahaya, karena itu disebut multimode.
Diameter inti (core) sesuai dengan rekomendasi dari CCITT G.651 sebesar 50 m
m dan dilapisi oleh jaket selubung (cladding) dengan diameter 125 m m.
Sedangkan berdasarkan susunan index biasnya serat optik multimode memiliki
dua profil yaitu graded index dan step index. Pada serat graded index, serat optik
mempunyai index bias cahaya yang merupakan fungsi dari jarak terhadap
sumbu/poros serat optik. Dengan demikian cahaya yang menjalar melalui
beberapa lintasan pada akhirnya akan sampai pada ujung lainnya pada waktu yang
bersamaan.

Berlainan dengan graded index, maka pada serat optik step index
(mempunyai index bias cahaya sama) sinar yang menjalar pada sumbu akan
sampai pada ujung lainnya dahulu (dispersi) Hal ini dapat terjadi karena lintasan
yang melalui poros lebih pendek dibandingkan sinar yang mengalami pemantulan
pada dinding serat optik. Sebagai hasilnya terjadi pelebaran pulsa atau dengan
kata lain mengurangi lebar bidang frekuensi. Oleh karena itu secara praktis hanya serat optik graded index sajalah yang dipergunakan sebagai saluran transmisi serat optik multimode.

Pelemahan
Pelemahan (Attenuation) cahaya sangat penting diketahui terutama dalam merancang sistem telekomunikasi serat optik itu sendiri. Pelemahan cahaya dalam serat optik adalah adanya penurunan rata-rata daya optik pada kabel serat optik, biasanya diekspresikan dalam decibel (dB) tanpa tanda negatif. Berikut ini beberapa hal yang menyumbang kepada pelemahan cahaya pada serat optik:
Penyerapan (Absorption)
Kehilangan cahaya yang disebabkan adanya kotoran dalam serat optik.
Penyebaran (Scattering)
Kehilangan radiasi (radiative losses)
Reliabilitas dari serat optik dapat ditentukan dengan satuan BER (Bit error rate). Salah satu ujung serat optik diberi masukan data tertentu dan ujung yang lain mengolah data itu. Dengan intensitas laser yang rendah dan dengan panjang serat mencapai beberapa km, maka akan menghasilkan kesalahan. Jumlah kesalahan persatuan waktu tersebut dinamakan BER. Dengan diketahuinya BER maka, Jumlah kesalahan pada serat optik yang sama dengan panjang yang berbeda dapat diperkirakan besarnya.
Kode warna pada kabel serat optik
Selubung luar
Dalam standarisasinya kode warna dari selubung luar (jacket) kabel serat optik jenis Patch Cord adalah sebagai berikut:
Warna selubung luar/jacket Artinya
Kuning serat optik single-mode
Orange serat optik multi-mode
Aqua Optimal laser 10 giga 50/125 mikrometer serat optik multi-mode
Abu-Abu Kode warna serat optik multi-mode, yang tidak digunakan lagi
Biru Kadang masih digunakan dalam model perancangan
Konektor

Pada kabel serat optik, sambungan ujung terminal atau disebut juga konektor, biasanya memiliki tipe standar seperti berikut:
FC (Fiber Connector): digunakan untuk kabel single mode dengan akurasi yang sangat tinggi dalam menghubungkan kabel dengan transmitter maupun receiver. Konektor ini menggunakan sistem drat ulir dengan posisi yang dapat diatur, sehingga ketika dipasangkan ke perangkat lain, akurasinya tidak akan mudah berubah.
SC (Subsciber Connector): digunakan untuk kabel single mode, dengan sistem dicabut-pasang. Konektor ini tidak terlalu mahal, simpel, dan dapat diatur secara manual serta akurasinya baik bila dipasangkan ke perangkat lain.
ST (Straight Tip): bentuknya seperti bayonet berkunci hampir mirip dengan konektor BNC. Sangat umum digunakan baik untuk kabel multi mode maupun single mode. Sangat mudah digunakan baik dipasang maupun dicabut.
Biconic: Salah satu konektor yang kali pertama muncul dalam komunikasi fiber optik. Saat ini sangat jarang digunakan.
D4: konektor ini hampir mirip dengan FC hanya berbeda ukurannya saja. Perbedaannya sekitar 2 mm pada bagian ferrule-nya.
SMA: konektor ini merupakan pendahulu dari konektor ST yang sama-sama menggunakan penutup dan pelindung. Namun seiring dengan berkembangnya ST konektor, maka konektor ini sudah tidak berkembang lagi penggunaannya.
Cara Kerja Fiber Optik

Sinar dalam fiber optik berjalan melalui inti dengan secara memantul dari cladding, dan hal ini disebut total internal reflection, karena cladding sama sekali tidak menyerap sinar dari inti. Akan tetapi dikarenakan ketidakmurnian kaca sinyal cahaya akan terdegradasi, ketahanan sinyal tergantung pada kemurnian kaca dan panjang gelombang sinyal.

Light propagation
Cahaya bergerak di sepanjang kabel serat dengan proses yang disebut 'Total Internal Refleksi' (TIR), hal ini dimungkinkan dengan menggunakan dua jenis kaca yang memiliki indeks bias berbeda. Inti batin memiliki indeks bias tinggi dan dinding luar kelongsong memiliki indeks yang rendah
PRINSIP KERJA FIBER OPTIK

Untuk memahami pengiriman data yang dilakukan optical fiber kita perlu memahami pembiasan (refraksi) dan pemantulan (refleksi) cahaya.

Saat suatu cahaya mencapai interface antara dua media dengan density yang berbeda, sinar tersebut dapat dipantulkan ataupun dibiaskan. Jika sudut datang (sudut datangnya cahaya terhadap garis yang tegak lurus permukaan) lebih kecil dari sudut kritis (critical angle, sudut ini didapat dari perbandingan density dua media tersebut) maka cahaya akan dibiaskan. Jika sudut datang lebih besar dari sudut kritis maka cahaya akan dipantulkan.

Pada serat optik gelombang cahayalah yang bertugas membawa sinyal informasi.
Pertama-tama microphone merubah sinyal suara menjadi sinyal listrik. Kemudian sinyal
listrik ini dibawa oleh gelombang pembawa cahaya melalui serat optik dari pengirim
(transmitter) menuju alat penerima (receiver) yang terletak pada ujung lainnya dari serat.
Modulasi gelombang cahaya ini dapat dilakukan dengan merubah sinyal listrik
termodulasi menjadi gelombang cahaya pada transmitter dan kemudian merubahnya
kembali menjadi sinyal listrik pada receiver. Pada receiver sinyal listrik dapat dirubah
kembali menjadi gelombang suara.
Tugas untuk merubah sinyal listrik ke gelombang cahaya atau kebalikannya dapat
dilakukan oleh komponen elektronik yang dikenal dengan nama komponen
optoelectronic pada setiap ujung serat optik.
Dalam perjalanannya dari transmitter menuju ke receiver akan terjadi redaman cahaya di
sepanjang kabel serat optik dan konektor-konektornya (sambungan). Karena itu bila jarak
ini terlalu jauh akan diperlukan sebuah atau beberapa repeater yang bertugas untuk
memperkuat gelombang cahaya yang telah mengalami redaman.

Pada dasarnya, sistem komunikasi serat optik terdiri dari tiga bagian: pemancar (transmitter), saluran komunikasi, dan penerima (receiver). Transmitter (yang terdiri dari dioda laser dan LED) berfungsi mengubah sinyal elektronik ke dalam bentuk gelombang cahaya dan memasukkannya ke dalam serat optik. Dibandingkan kabel tembaga, sebatang kabel serat optik memiliki bandwidth lebih banyak (sampai dengan 1 Terabit/detik atau 1012 bit/detik), material loss yang rendah, tidak menghasilkan electromagnetik noise, dan juga tidak terpengaruhi oleh gelombang elektromagnetik dari luar (electromagnetic interference). Dilihat dari segi bandwidth, serat optik jelas jauh lebih unggul daripada kabel tembaga atau nirkabel/satelit. Penerima (photodetector) berfungsi mengubah sinyal cahaya kembali ke dalam bentuk elektronik. Alat-alat opto-elektronik yang dipakai dalam sistem serat optik sebagian besar terbuat daripada bahan semikonduktor, khususnya senyawa yang terbentuk dari unsur-unsur golongan III (seperti Ga) dan golongan V (seperti As). Senyawa-senyawa yang terbentuk dari elemen-elemen golongan III-V mempunyai bandgap langsung yang memudahkan transisi elektron dari band konduksi ke band valensi dengan menghasilkan photon pada prosesnya. Akhir-akhir ini, kemajuan

Kabel Optik Yang Sering Digunakan
Distribution Cable

Indoor/Outdoor Tight Buffer

Indoor/Outdoor Breakout Cable

Aerial Cable/Self-Supporting

Hybrid & Composite Cable

Armored Cable

Low Smoke Zero Halogen (LSZH)

Senin, 02 November 2009

Pengenalan Port Number

Mungkin kita sudah gak asing ama istilah port number, tapi buat yang belum tahu port adalah sebuah lubang yang memungkinkan suatu (data)untuk memasukinya. Komputer bisa dikatakan memiliki 2 macam port,yaitu port fisik dan port perangkat lunak. Port fisik adalah slot yg ada pada bagian belakang CPU, sedangkan port perangkat lunak adalah port yg dipakai oleh software saat melakukan koneksi dengan komputer lain.Nah yg berhubungan secara langsung dengan kegiatan kita saat bermain dgn internet adalah port perangkat lunak. Port perangkat lunak ini dapat kita bedakan menjadi 3, yaitu:

a)well known port
port jenis ini memiliki range dari 0-1023,semula sih hanya memiliki range dari 0-255 tapi oleh IANA(Internet Assigned Number Authority)dilebarkan menjadi range tadi yg disebutkan diawal. Pada kebanyakan sistem port pada range ini hanya dapat dipakai oleh root,atau oleh program yang dijalankan oleh user. Karena range-nya dari 0-1023 maka port2 terkenal seperti ftp(21),ssh(22),telnet(23),http(80) termasuk dalam jenis ini.

b)Registered Ports
memiliki range dari 1024-49151, port jenis ini tidak ditujukan untuk service tertentu dari suatu server. Lalu apa gunanya dong?? hehehe, port pada range ini biasanya digunakan oleh Networking utlites seperti Browser, Email Client, FTP software untuk berkomunikasi dengan remote server. Biasanya Networking utlites akan membuka secara acak port pada range ini untuk terhubung dgn remote server. Port number pada range inilah yang membuat kita dapat melakukan surfing di internet,melakukan pengecekan e-mail,dll. Jadi sangat berguna kan? hehehe Port ini akan membuka sementara ketika kita sedang menjalankan sebuah aplikasi sehingga apabila kita menutup aplikasi tersebut maka secara otomatis port ini pun akan tertutup dgn sendirinya(ingat Networking utlites membukanya secara acak)

c)The Dynamic/Private Ports
memiliki range dari 49152-65535, biasanya sih digunakan oleh sebagian besar trojan(waaaaaaaa..), tapi ada juga sih program yang memkai port ini terutama program yang memerlukan range port number yang besar, seperti pada Sun yang menjalankan RPC pada port 32768.

Untuk lebih jelasnya mari kita lihat :

C:\windows>netstat -a
Active Connections
Proto Local Address Foreign Address State
TCP juve:1031 juve.box.sk:ftp ESTABLISHED
TCP juve:1036 juve.box.sk:ftp-data TIME_WAIT
TCP juve:1043 banners.egroups.com:80 FIN_WAIT_2
TCP juve:1045 mail.kalteng.net.in:pop3 TIME_WAIT
TCP juve:1052 banners.boxnetwork.net:80 ESTABLISHED
TCP juve:1053 mail.kalteng.net.in:pop3 TIME_WAIT
UDP juve:1025 *:*
UDP juve:nbdatagram *:*

Mari kita ambil satu baris dari contoh diatas :

Proto Local Address Foreign Address State TCP juve:1031 juve.box.sk:ftp ESTABLISHED

data diatas menunjukan pada kita bahwa:
*Protocol: TCP (ini adalah Transmission Control Protocol atau TCP, User Datagram
Protocol atau UDP, IP atau Internet Protocol)
*Nama lokal sistem: juve (ini adalah nama dari lokal sistem yang kita
setting pada windows setup)
*Lokal port yang terbuka dan digunakan pada saat melakukan koneksi ini
adalah: 1031
*Remote Sistem: juve.box.sk (ini adalah non-numerical form dari sistem
dimana kita terkoneksi)
*Remote Port: ftp (ini adalah port number dari remote sistem
kalteng.box.sk dimana kita terkoneksi)
*Keterangan koneksi: ESTABLISHED

sumber Penulis :juventini
====================================================================================
Dari puluhan nomor port bahkan ratusan nomor port yang ada, tentu saja kita tidak membutuhkan semua. Port banyak membantu kita saat melakukan port surfing. Kegiatan port surfing adalah melakukan penjelajahan dari port-port yang ada terutama area well
known port (baca TCP/IP). Port ini secara standard digunakan untuk menangangi system (dikenal sebagai root).

Port 7. Nama ngepopnya adalah echo. Kegunaannya adalah apapun yang kita ketik host akan menjawab atau merespon. Biasa digunakan untuk perintah ping.

Port 9. Dikenal dengan discard Dev/null. Dipakai untuk meneruskan sesuatu yang bersifat sampah alias dummy.

Port 11. Sebutannya systat. Dipakai untuk mencari informasi tentang seorang pemakai.

Port 13. Nama kerennya daytime Time and date. Port ini digunakan untuk mengetahui waktu dan tanggal dari lokasi komputer diakses.

Port 15. Dikenal dengan netstat. Digunakan untuk mendapatkan informasi tentang network.

Port 19. Nama kerennya adalah chargen. Digunakan untuk membanjiri port dengan aliran data karakter ASCII.

Port 21. Nama ngepopnya adalah FTP (File Transfer Protocol). Port ini untuk melakukan proses tranfer file.

Port 22. Nama ngepopnya adalah ssh. Singkatan dari secure shell login. Dipakai untuk jalur aman proses manipulasi data (encrypted tunnel), karena data akan diacak.

Port 23. Dikenal dengan telnet. Port ini digunakan untuk melakukan login ke suatu komputer, jika kita tidak memiliki ssh.

Port 25. Sebutannya adalah smtp. Digunakan untuk melakukan proses pengiriman email dan proses test email.

Port 37. Sebutannya adalah time. Menunjukkan waktu saat ini.

Port 39. Dikenal dengan nama RLP. Digunakan untuk mencari lokasi sumber (resource location).

Port 43. Nama popnya adalah whois. Digunakan untuk mendapatkan info dari suatu host dan network.

Port 53. Sebutannya adalah domain name server (DNS). Digunakan untuk mencari DNS.

Port 70. Kerennya dipanggil adalah gopher. Digunakan oleh program pencari info kuno bernama gopher.

Port 79. Sebutannya finger. Digunakan untuk mendapatkan informasi tentang seorang pemakai.

Port 80. Sebutannya http Web Server. Digunakan untuk oleh web server untuk melayani internet browser http.

Port 110. Sebutannya adalah pop. Digunakan untuk jalur surat masuk (incoming email).

Port 443. Nama topnya adalah shttp. Digunakan oleh webserver sebagai jalur aman (secure).

Port 512. Sebutannya biff. Digunakan untuk mendapatkan pesan pemberitahuan surat (mail notification).

Port 513. Nama kerennya adalah rlogin. Digunakan untuk melakukan remote login.

Port 514. Dikenal dengan shell remote command. Digunakan untuk perintah jarak jauh biasanya tanpa menggunakan password.

Port 520. Sebutannya adalah route. Digunakan untuk proses routing information protocol.

sumber : http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/10/port-internet/

Repeater, Bridge, Router dan Gateway

Repeater, Bridge, Router dan Gateway

router-repeater-kitRepeater, Bridge, Router dan Gateway Networking Add comments Mungkin ada di antara kita sering mendengar atau menggunakan istilah-istilah pada judul di atas. Namun apa beda masing-masing dari istilah itu?

REPEATER (bekerja pada Physical Layer)
Digunakan untuk mengatasi keterbatasan (jarak, kualitas sinyal) fisik suatu segmen jaringan.
Dapat juga digunakan untuk menggabungkan beberapa segmen suatu jaringan yang besar (misalnya Ethernet to Ethernet)
Namun dalam membangun jaringan fisik yang besar, perlu diperhatikan bahwa aturan panjang kabel maksimum tidak dapat dilampaui dengan menggunakan repeater ini. Contohnya, kabel coaxial 50 ohm pada Ethernet hanya bisa total sampai 2,3 km dan batasan ini tidak dapat diatasi dengan menggunakan repeater.
Karena bekerja pada physical layer, repeater tidak dapat menghubungkan misalnya antara protokol data link layer yang berbeda (misalnya Ethernet dengan Token Ring). Hal ini disebabkan karena repeater mempunyai bit korespondensi dengan data link atau network layer.

Hub mempunyai fungsi sebagai repeater, oleh karena itu hub kadang juga disebut sebagai multiport/modular repeater.
Harap diperhatikan, penggabungan dua atau lebih segmen network dengan menggunakan repeater akan mengakibatkan seluruh traffic data akan menyebar ke seluruh jaringan, tanpa memandang apakah traffic data tsb diperlukan atau tidak di seluruh jaringan. Jika jumlah station semakin banyak, dan traffic data sangat tinggi, maka beban pada backbone jaringan tentunya akan menjadi berat. Akhirnya kinerja jaringan akan menurun, dan kelambatan akses akan terasa.
Untuk itulah dalam merancang sebuah network, seorang network administrator memerlukan pengetahuan dan antisipatif terhadap beban jaringan yang akan terjadi.
Pengetahuan tentang topologi fisik, logic, manajemen traffic jaringan, jenis dan karakteristik protocol pada masing-masing physical sampai dengan application layer sangat diperlukan.

BRIDGE - bekerja pada Data Link layer (2)
Bridge mengatur (melalui filtering atau forwarding) frame data per segmen, sehingga jika w/s 1 akan mengirim data ke w/s 2, frame tidak akan diteruskan (forward) ke segmen 2. Hal ini mengakibatkan beban jalur setiap segmen menjadi optimal, dan overhead traffic pada setiap segmen dapat dikurangi.
Sekarang kita bahas mengenai jenis-jenis bridge.
Transparent Bridge
Melakukan bridging antara 2 atau lebih segmen LAN. Jenis bridge ini juga dapat melakukan bridging pada jenis media physical layer yang berbeda (UTP, coax, fiber dll). Pengaturan bridge jenis ini dapat dilihat pada dokumen standar IEEE 802.1D.

Translating Bridge
Adalah jenis bridge yang mampu untuk melakukan bridging antar protocol pada data link layer (contoh Ethernet dengan Token Ring). Dengan demikian terjadi proses konversi jenis frame data dan transmission rate masing-masing protocol. Proses ini dilakukan pada preamble dan FCS (frame check sequence).
Pada bagian lain kita akan membahas pula bagaimana menghitung performance network dalam hubungannya dengan penerapan kedua jenis bridge ini.
Masalah yang ada pada segmentasi Ethernet
Dasar dari dibaginya sebuah network dalam beberapa segmen yang menggunakan bridge mengacu pada rancangan topologi jaringannya. Misalnya dalam sebuah network yang terdiri dari departemen A dan B, maka untuk mengurangi overhead traffic jaringan secara keseluruhan dibuatlah segmen fisik A dan B. Dengan tujuan agar traffic pada segmen A jika tidak diperlukan ke segmen B, benar-benar hanya berlalulalang di segmen A saja.

Telah kita ketahui bahwa bridge melakukan filtering dan forwarding frame pada masing-masing segmen nya yang menimbulkan konsekuensi jika filtering dan forwarding rate menjadi besar maka akan mempengaruhi kinerja jaringan secara keseluruhan.

Teknologi switching hub menjawab permasalahan ini dengan cara kerja sebagai berikut:
Saat sebuah node akan berhubungan dengan node lain yang berbeda segmen, peralatan ini akan menjadi bridge dan membuka sebuah jalur langsung ’sementara’ dengan acuan source dan destination address Ethernet nya.

Switching hub bekerja pada Ethernet MAC (Media Access Control) sublayer.
Setiap port pada hub jenis ini dapat menjamin throughput nya tetap 10 Mbps. Karena jika pada hub non switch, jika terdapat misalnya 8 port Ethernet, maka dalam hitungan mudahnya setiap port akan hanya memperoleh 10 Mpbs / 8 port = 1,25 Mbps.

Switching hub
Switching hub bekerja pada Ethernet MAC (Media Access Control) sublayer.
Diagram hubungan antara OSI dan IEEE 802 standar
MAC = Media Access Control
802.3 - CSMA/CD (di Ethernet)
802.4 - TOKEN BUS
802.5 - TOKEN RING
802.6 - DQDB MAN (Distributed Que Dual Bus Metropolitan Area Network)

Buffering pada switch
Pada switch hub digunakan minimal sebuah CPU dan memory untuk melakukan packet buffering. Sebuah switch mampu menerima semua paket data dalam koneksi yang ada secara serentak. Kemudian paket data diteruskan hanya kepada alamat tujuan (destination address).
Setiap paket berisi dua MAC layer address yaitu alamat pengirim (source) dan tujuan (destination). Switch akan menyimpan dalam sebuah tabel MAC address yang digunakan untuk mencocokan koneksi yang harus dilakukan. Penggunaan tabel ini juga untuk menentukan kemana paket data harus dikirim. Jumlah tabel MAC address biasanya juga terdapat dalam spesifikasi switch, yang dapat mencapai ribuan alamat.
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kapasitas memory dalam switch. Karena perlu diingat pula bahwa bentuk lalu lintas paket data dapat dibagi dua golongan yaitu : peer to peer/point to point dan satu ke banyak koneksi (one to many, misalnya w/s ke server).

Beberapa teknik yang digunakan pada switching hub:
internal bus - pada high end switch -> gigabytes
shared memory / packet bus
memindahkan satu koneksi dalam switch ke koneksi lain

Parameter penting lainnya adalah ukuran packet per second (pps). Sebagai contoh sebuah merk switching hub dapat memproses sampai dengan 150.000 pps pada koneksi 100baseT (fast ethernet) dan 1/10 nya pada koneksi 10baseT.

Metode kerja switching
Cut through, yaitu menentukan route paket yang diterima langsung ke alamat port tujuan. Tentu saja hal ini akan meningkatkan throughput koneksi dan mengurangi latency pengiriman paket. Cara kerjanya adalah, ketika sebuah bagian paket diterima, langsung route dan pengiriman dilakukan ke alamat tujuan. Proses ini tidak dilakukan dengan cara mengumpulkan terlebih dahulu seluruh paket, baru kemudian dikirim. Jika koneksi tujuan sedang digunakan, switch akan menampung paket data yang diterima tsb pada buffer. Dan paket data akan dikirim dari buffer jika koneksi tujuan telah kosong.

Potensi terjadinya network overhead dapat terjadi ketika network digunakan pada aplikasi yang bersifat mem-broadcast paket data, misalnya network games. Switching dapat digunakan
untuk mengatasi masalah ini, melalui pembatasan jalur spt telah diterangkan di atas (lihat juga posting sebelumnya). Adapula switching hub yang dapat diatur pembatasan distribusi paket broadcast ini.

Aplikasi dan disain jaringan dengan switch
Sebuah server yang menangani berbagai workstation, biasanya menggunakan beberapa network interface card (NIC) yang diatur segmentasinya berdasarkan aplikasi jaringannya, misalnya per departemen. Sebagai alternatif lain, cara seperti ini dapat dilakukan pula dengan lebih mudah dan efektif dengan menggunakan switching hub.

Contoh kasus dalam disain:
Dalam skenario di bawah ini, masing-masing workstation masih menggunakan ethernet card 10baseT (10 megabits per second).
Koneksi Fast Ethernet 100baseT digunakan untuk server, sedangkan port lainnya digunakan untuk dihubungkan dengan 2 buah hub 10baseT. File server sesuai dengan fungsinya akan menerima dan mengirim data pada rate yang sangat tinggi, sedangkan workstation akan mengirim paket data dengan kemungkinan (probabilitas) tanpa terjadinya collision. Skenario seperti ini biasanya akan memperbaiki kinerja jaringan secara keseluruhan. Mengapa? Karena jika segmen jaringan mempunyai kapasitas yang sama, throughput dari switch hub ke file server masih lebih tinggi dibandingkan dengan hub pada level di bawahnya. Dan switch dapat secara langsung melakukan routing packet dalam segmen fisik jaringan secara lebih cepat.

Switch dan Virtual LAN (VLAN)
Teknik switching hub yaitu melakukan routing packet Ethernet berdasarkan source dan destination address nya.
Mengapa diperlukan segmentasi atau partisi dalam jaringan? Pertimbangannya adalah : 1) Keamanan (security), 2) Kinerja jaringan.
Security diperoleh dari pembatasan akses ke suatu server dengan pembatasan routing paket data. Kinerja dapat dipertahankan dengan mengatur routing packet, khususnya broadcast packet dalam suatu VLAN.

Lalu bagaimanakah menggabungkan keduanya dalam suatu skema yang simpel yang juga memudahkan topologi fisik suatu jaringan? Teknik VLAN dapat diterapkan untuk ini, karena VLAN dapat membuat suatu segmentasi logic dalam suatu jaringan.
VLAN dapat melakukan partisi/segmentasi dengan dua cara yaitu berdasarkan nomor port pada switching hubnya atau alamat MAC dari workstation-nya.
Perlu diketahui bahwa TIDAK semua switching hub dapat melakukan VLAN, apalagi jika beberapa switching hub saling dihubungkan. Walaupun dari merk yang sama, ada atau tidaknya kemampuan ini perlu diteliti terlebih dahulu.

Kapan menggunakan switch dan router?
Kapan menggunakan switch dan router adalah pertanyaan yang selalu menggelitik bagi para network manager dalam merancang suatu jaringan. Rangkaian tulisan ini mencoba mengupas secara gamblang tentang berbagai aspek yang menyangkut penggunaan switching hub dan router.

Perbedaan mendasar antara switch versus router dan bridge adalah router dan bridge menggunakan metode ’store and forward’. Sedangkan switch bekerja dengan cara on the fly switching. Router mengambil seluruh paket sebelum paket tersebut diteruskan ke tujuan. Metode store and forward membawa seluruh frame data ke dalam peralatan, yang kemudian di-buffer untuk dalam sebuah satuan waktu. Akan lebih jelas jika kita memperhatikan TCP/IP layers, seluruh frame header akan melewati layer data link kemudian dibawa ke layer di atasnya yaitu network layer untuk diketahui tipe dari frame nya. Baru kemudian diteruskan ke alamat network yang dituju melalui data link layer kemabli. Proses ini berlaku untuk seluruh frame yang melintas di router.

Lain halnya dengan switch yang hanya mengambil 20 byte pertama dari sebuah frame. Karena switch tidak mengambil seluruh frame, namun hanya pada alamat tujuan (destination address) sebelum meneruskan frame tersebut ke alamat tujuan, maka network latency atau jeda (delay) yang terjadi akan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan router.

Secara kalkulatif, per frame mempunyai delay selama 30 microsecond menuju dan keluar dari switch. Untuk bridge dan router, latency yang ditimbulkan dapat mencapai lebih dari 2000 microsecond per frame untuk dapat melakukan koneksi pada secara timbal balik.

Untuk menentukan cara apakah yang akan dipakai, diperlukan perencanaan yang matang khususnya dalam menganalisis volume lalu-lintas data dalam LAN dan WAN (lihat seri tulisan ini berikutnya mengenai cara menghitung estimasi volume traffic pada jaringan). Apalagi jika jaringan akan digunakan untuk keperluan Intranet yang mempunyai banyak workstation/client dengan berbagai aplikasi termasuk multimedia, sudah barang tentu traffic dalam jaringan LAN akan menjadi sangat besar. Dengan demikian potensi terjadinya latency atau delay juga akan semakin besar. Akhirnya kinerja jaringan secara keseluruhan akan tidak optimum dan end-user akan mengatakan bahwa aksesnya lambat!

Perlu juga digarisbawahi bahwa switch dapat memecahkan masalah jika memang masalah disebabkan oleh bottleneck jaringan khususnya pada layer data link. Karena lambatnya akses data/informasi pada jaringan sangat mungkin juga disebabkan oleh faktor kinerja dari server, disk atau aplikasinya.

Cara kerja switch
Jika akan menggunakan switching hub, diperlukan beberapa informasi dasar untuk menentukan pilihan switch, yaitu dengan mengetahui cara kerjanya.

- Cut through
Yaitu menentukan route paket yang diterima langsung ke alamat port tujuan. Tentu saja hal ini akan meningkatkan throughput koneksi dan mengurangi latency pengiriman paket. Pengiriman dilakukan tanpa terlebih dahulu mengumpulkan seluruh paket. Tetapi ketika alamat tujuan diketahui, langsung route dan pengiriman dilakukan ke alamat itu. Untuk satu paket Ethernet (1518 byte) proses ini memerlukan waktu hanya selama 40 microsecond. Dalam keadaan koneksi tujuan sedang digunakan, switch akan menampung paket data yang diterima untuk dimasukkan ke dalam buffer. Dan paket data akan dikirim dari buffer jika koneksi tujuan telah kosong.

- Store and forward
Cara kerjanya dilakukan dengan mengumpulkan seluruh paket hingga lengkap ke dalam memory switch dan melakukan pemeriksaan kesalahan dengan metode CRC (Cyclic Redundancy Check). Waktu yang diperlukan untuk melakukan proses untuk setiap paket Ethernet adalah 1,2 milidetik. Karena diperlukan memory yang cukup, ada potensi terjadinya latency dalam store and forward switch ini yang disebabkan oleh penuhnya memory yang ada untuk menampung seluruh paket dan tabel dari ntwork address.

Walaupun cara cut through akan mengurangi terjadinya latency, tetapi konsekuensinya, paket data yang rusak juga akan juga sampai ke alamat tujuan. Kebalikannya, hal ini tidak terjadi pada store and forward switch.

Dari kedua cara di atas, ada pula switch yang menggabungkan kedua cara tsb yang disebut hybrids. Pada saat awal menggunakan cara cut through switching, dan melakukan pemeriksaan CRC, kemudian menghitung jumlah error yang ada. Jika jumlah error telah sampai pada batas tertentu, switch akan bekerja dengan cara store and forward sampai dengan kondisi jumlah error telah berkurang. Selanjutnya switch akan kembali bekerja dengan cara cut through. Cara termudah untuk mengetahui adanya kemampuan ini adalah dengan melihat ada atau tidaknya keterangan threshold detection atau adaptive switch dalam spesifikasi teknisnya.

Layer 3 Switching (L3S)
Layer 3 switching atau IP switching yang diperkenalkan tahun 1997 adalah teknologi Ethernet switching yang menggunakan informasi IP address untuk menyeleksi dan menentukan jejak data dalam network.

Packet switching throughput dapat mencapai jutaan paket per detik (pps.) Secara hardware, router biasa mengandalkan kemampuan mikroprosesor dari mesin yang digunakan. Sedangkan Layer 3 switch menggunakan application-specific integrated circuit (ASIC) yang dapat menghasilkan thoroughput lebih tinggi.

Untuk mencapai unjuk kerja maksimum, selain penggunaan Layer 3 switching juga diperlukan faktor lain yaitu route processing dan intelligent network.

di sadur dari link blog :http://ekoari.blog.uns.ac.id/2009/04/17/repeater-bridge-router-dan-gateway/

Referensi:
Susan Biagi, Switching VS Routing, STACK, The Network Journal For VARS and Integrators,
Juli 1994, hal 13.
Stuart Hamilton, Cisco Manager of Enterprise Network Design, Layer 3 Switching - Looking beyond Performance, Packet ™ Magazine Archives, Third Quarter 1998
Ed Mier, Rob Smithers, Tom Scavo, Bob Neubaum, Business Communication Review, Layer 3 Switches–Ready to Route Volume 28, Number 10 October 1998, hal 34-40

Kamis, 29 Oktober 2009

NEW TELKOM INDONESIA



" Tanggal 23 Oktober 2009 " merupakan hari yang bersejarah bagi Telkom tahun ini merupakan ulang tahun yang ke 153. Sejarah telah mencatat bahwa perebutan instansi PTT (Pos Telepon dan telegraf) oleh pemuda pejuang telekomunikasi saat itu adalah awal dari kebangkitan Pertelekomunikasian di Indonesia.

23 Oktober 2009 ini juga merupakan tonggak sejarah baru bagi Telkom Indonesia. Telkom sebagai salah satu perusahan telekomunikasi terbesar di Indonesia senantiasa perlu berbenah diri, melakukan evaluasi tehadap apa yang diinginkan oleh Pelanggan, apa yang dibutuhkan oleh pelangan dan bagaimana melayani pelanggan dengan service yang prima dan excelent.

Perubahan adalah sesuatu yang abadi,kepompong berubah menjadi ulat, ulat berubah menjadi kupu-kupu. Berubah kerena lingkungan yang berkembang berubah karena tantangan yang sangat berat. sama halnya dengat ulat tadi agar perusahan tetap exist dalam menyongsong persaingan bisnis yang semakin keras dan kejam, regulasi yang dikeluarkan penguasa, konvergensi teknologi dan persainganan bisnis yang ketat adalah genderang sebagai pemicu untuk berubah dan berubah.

Mulai 23 oktober Telkom Indonesia telah melakukan perubahan fortopolio bisnis dari FMM (Fixe,Multimedia,Mobile) menjadi sebuah perusahaan yang core bisnis focus pada TIME (Telecomunication,Information,Media,edutainment). Dengan perubahan ini maka corporate identity menjadi berubah, budaya menjadi berubah. Positioning market juga berubah kuncinya adalah dengan "LIVE CONFIDENT" Yaitu :

Expertise,Empowering,Assured,Progresive,Heat.

" keahlian dan dedikasi kami pada kemajuan akan memberikan keyakinan bagi semua pelanggan kami untuk mendukung kehidupan mereka dimanapun mereka berada "

" THE WORD IN YOUR HAND"
"SELAMAT HARI JADI TELKOM INDONESIA" mari kita menuju ke Ip fundamental..menuju ke full NGN (next Generation Network), generasi masa kini.